Omset Melejit di Tengah Pandemi

Motor milik para kurir siap mengantar pesanan

Awalnya hanya karena hobi mengenakan busana muslim, dan berlanjut hingga menjadi pedagang baju wanita. Omset melejit sejak pandemi Covid-19 merebak hingga kini.

Oleh: Bahtin A. Razak

Bisnis lewat online atau dalam jaringan (daring) merebak sejak beberapa tahun belakangan. Memanfaatkan segala macam kanal media sosial (medsos): Facebook, Instagram, Twitter, Tiktok, hingga Whatsapp, jual beli beragam produk hampir mendominasi aktifitas medsos. Tak kalah juga penting juga adalah platform toko online atau E-Commerce seperti Shopee.

Hadirnya bisnis online ini seperti surga bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Bermacam usaha minim modal tumbuh subur. Usaha kuliner, fesyen (busana), kosmetik, dan lainnya hingga sektor jasa tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Salah satu pelaku usaha yang memanfaatkan pesatnya teknologi digital (online) adalah Farhana.id. Toko online ini memilih bisnis menjual busana wanita. Hadir sejak 2018, Farhana.id berlokasi di Komplek Perumahan CHT Bawah, Desa Sea Satu, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.

“Kami memilih produk busana wanita, khususnya busana muslimah, karena saya suka mengenakan busana muslimah. Dan saya pikir, fesyen wanita itu perkembangan dan perubahan trennya sangat cepat. Kami pikir ini adalah prospek yang besar,” kata Wulan Mutty, pemilik dan pencetus Farhana.id.

Suasana dalam butik

Dari awal juga, katanya, pilihannya berjualan secara online karena hampir tak butuh modal, kecuali membeli produk yang akan dijual kembali. Pertama kali ‘go public’ jualannya pada September 2018 di Facebook dan Instagram.

“Memang ada tempat untuk dijadikan butik dari bekas warung kelontong yang dijalankan sebelumnya, tapi untuk memulai buka butik offline itu sudah pasti butuh modal yang tidak kecil. Kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan saat itu,” kata ibu dua anak ini.

Unggahan pertama di akun Facebook

Istri tercinta dari Mazari Saleh ini bercerita awal mengunggah produk jualannya ke linimasa Facebook-nya toko yang awalnya bernama Warsa Farhana Store itu, sangat sedikit respon. Paling banyak yang melihat unggahan itu hanya teman-teman sekantornya di salah bank BUMN di Manado.

“Akhirnya laku juga satu baju bergaya busana muslim: Dress Gamis Muslimah. Dibeli oleh teman kantor. Baju itu dapat dari dari salah satu toko di Shopee,” ungkapnya.

Sepanjang 2018 itu model penjualan masih dengan metode yang sama: mengunggah di linimasa Facebook, dan sudah bertambah di Instagram. Penjualannya pun sangat minim ketika produk diunggah ke linimasa

“Pernah ada yang membeli tiga buah baju dari Ternate, kebetulan saudara yang di sana. Kami merasa itu pencapaian yang sangat menggembirakan karena jumlah melebihi satu buah, dan dari luar daerah pula. Senang sekali saat itu,” kata Mazari, menimpali.

Mazari mengungkapkan nama Farhana.id akhirnya dipilih mulai 1 Januari 2019. Alasannya agar namanya lebih sederhana dan mudah diingat. Akun di Shopee juga turut diubah menjadi Farhana.id.

Seiring waktu berjalan ketika nama Farhana.id mulai dikenal oleh wanita-wanita penyuka fesyen terbaru, penjualan pun kian digencarkan lewat Shopee, selain dua medsos yang dimiliki. Toko Farhana.id di Shopee seperti menjadi ‘jualan’ kepada teman-teman dan pengikut di medsosnya.

“Kami katakan, ‘lebih bagus juga beli lewat Shopee’ karena ada promo gratis ongkos kirim’. Makanya pembeli yang memanfaatkan toko di Shopee melejit. Dari biasanya paling banyak lima buah, menjadi sampai puluhan. Kurir dari perusahaan ekspedisi pun sampai kewalahan menangani paket-paket pesanan pembeli,” ungkap Mazari.

Salah satu kondisi saat pesanan membludak

Bisnis Farhana.id mulai menanjak tinggi ketika wabah atau pandemi Covid-19 mulai merebak. Di awal 2020 penjualan masih biasa-biasa seperti sepanjang 2019: masih paling banyak 50 buah perhari. Tapi, ketika Maret 2020 ketika diumumkan bahwa sudah ada kasus pertama (penderita) Covid-19 di Sulawesi Utara, dan pemerintah mulai membatasi aktivitas masyarakat, penjualan mulai melejit.

“Orang-orang takut keluar rumah, pemerintah juga melarang warga keluar rumah. Apalagi saat itu ada kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat dan pusat berbelanjaan (mall) ditutup, padahal sebentar lagi lebaran Idul Fitri,” ungkapnya.

Menurut Mazari, penjualan makin melejit saat menjelang bulan puasa Ramadan sekira April 2020, dan mencapai puncaknya mendekati Lebaran Idul Fitri Tahun 2020. Peningkatan signifikan penjualan ini, katanya, terlihat dari asal daerah pemesan.

“Paling banyak dari wilayah Bolmong Raya. Ada juga dari Gorontalo dan Ternate. Warganya mayoritas Muslim, yang biasanya setiap jelang Lebaran berbondong-bondong ke Manado untuk belanja, terutama pakaian. Tapi karena ada pembatasan aktivitas, dan di perbatasan wilayah pengawasan orang masuk keluar ketat, makanya mereka lebih banyak berdiam di rumah. Pilihannya, ya, belanja online,” ujarnya.

Dia mengakui saat itu seluruh personil yang menjalankan operasional: pemilik, administrasi, dan kurir kewalahan melayani pembeli. “Pernah sampai 500 buah paket pesanan dalam sehari. Naik sampai lima kali lipat,” ungkap Mazari. “Sebenarnya, berdosa jika kami bersyukur adanya pandemi Covid-19 ini. Tapi inilah kenyataannya: kami yang memilih berjualan online kecil-kecilan justru meraup pendapatan yang lumayan dibanding dengan toko-toko besar yang masih berjualan offline. Bahkan tidak sedikit yang tutup tokonya,” imbuhnya.

Webinar Shopee

Bertahan, bahkan melejitnya omset Farhana di tengah persaingan jual-beli online bukan dikelola asal-asalan, tapi melalui proses yang ketat. Antara lain dengan selalu memperbarui pengetahuan tren jual-beli online.

“Salah satunya kami rutin mengikuti webinar yang dilaksanakan oleh Shopee. Selain itu, selalu mencari referensi-referensi terbaru jual-beli online di internet,” katanya.

Menurut Mazari, webinar yang digelar Shopee beragam materinya, terutama kiat-kiat menjalankan bisnis online. Dari masalah pemilihan produk, tren di tiap produk, pemasaran, bahkan sampai penatausahaan keuangan.

“Di webinar itu juga kami jadi tahu metoda mengenalkan produk yang akan dijual. Di situ juga dikasih tahu perubahan algoritma tren terbaru pemakai medsos. Ada yang unggah di timeline (linimasa), yang di story, dan sekarang lebih banyak di live (siaran langsung). Semua kanal kami pakai, dan dilihat mana yang paling besar impresinya terhadap produk yang kami jual,” ungkap Mazari.

Pemilihan paket pesanan oleh kurir sesuai wilayah pengiriman

Lewat webinar Shopee juga diajarkan kiat-kiat bagaimana digitalisasi bisnis, termasuk administrasinya. Makanya, sekarang pencatatan administrasi proses bisnis di Farhana.id sudah meninggalkan catat-mencatat di buku.

“Seperti catatan pesanan oleh kurir sudah pakai aplikasi notes. Dalam catatan itu sudah tertera nomor telepon pemesan yang hanya sekali klik nomor di notes itu langsung terhubung ke pemesan,” ungkapnya seraya menyebut metode pembayaran pun sudah lebih banyak menggunakan transfer bank, e-Money, hingga QRIS.

Makin Banyak Karyawan

Awalnya Farhana.id murni hanya dijalankan suami-istri ini: Mazari dan Wulan. Untuk jadi model baju dan edit foto untuk diunggah ke linimasa, dan administrasi adalah Wulan. Sedangkan Mazari kebagian tugas menjadi kurir, yang kebetulan juga masih menjalani pekerjaan sebagai sopir taksi online. Situasi ini hingga akhir 2019.

Aktifitas bagian administrasi memilah pesanan

Selanjutnya di Maret 2020 karena pesanan mulai meningkat, maka direkrut tenaga administrasi satu orang dan tambahan seorang kurir. Kemudian ketika melonjak pesanan saat Ramadan dan Lebaran Idul Fitri, tambah lagi tenaga administrasi.

“Alhamdulillah, karena pasokan produk dari pemasok sangat lancar dan pesanan makin banyak, kami sudah tambah karyawan di bagian admin lima orang dan kurir jadi tiga orang, di luar kurir perusahaan ekspedisi yang menjemput pesanan di kantor kami,” kata Wulan, menimpali. “Yah, hitung-hitung kami membantu orang lain untuk menyambung hidup di tengah pandemi Covid-19 ini,” katanya menambahkan.

Paket pesanan siap diantar

Menurut Rajib Wahyudi, salah satu kurir yang bergabung sejak Agustus 2020, direkrut menjadi kurir di Farhana.id adalah suatu kesempatan yang sangat berarti. Betapa tidak, jika biasanya dia menjalani pekerjaan ojek online dengan pendapatan maksimal Rp 200.000 sehari, sejak bergabung dengan Farhana.id Rp 200.000 itu boleh diperoleh dalam tiga jam.

“Kalau ojek online kadang-kadang sampai subuh baru dapat 200 ribu. Kalau di Farhana, biasanya antar pesanan dari jam 8 malam sampai jam 11 malam, kadang lebih dari 200 ribu yang diterima,” ungkap Rajib.

Nekat Mundur Dari Karyawan Bank

Menjalankan bisnis harus fokus. Inilah yang dipegang oleh Wulan dan Mazari mengoperasikan Farhana.id ini. Makanya, ketika waktunya tidak fokus antara menjadi karyawan bank dari pagi hingga malam dan bisnis jual baju, belum lagi mengurus dua anaknya yang masih kecil, maka Wulan nekat mengundurkan diri dari pegawai bank. Padahal pekerjaan itu—dengan status karyawan tetap—dijalani sejak 2012.

“Pergumulan keluarga waktu itu sangat besar. Orang tua tidak menginzinkan untuk mundur dari pegawai bank, begitu juga keluarga yang lain sangat berat mengiyakan. Apalagi saya tidak memiliki pekerjaan tetap,” ungkap Mazari, penyandang Sarjana Kedokteran (S.Ked) yang tak lagi meneruskan pendidikan profesi dokter. “Kita jadi pedagang baju saja, hehehe,” ujarnya berkelakar.

Akhirnya Wulan tetap mengajukan pengunduran diri sejak Desember 2019, dan disetujui oleh manajemen bank BUMN di Manado itu pada Februari 2020.

“Yah, mungkin sudah jalan Tuhan seperti itu. Dan tidak lama setelah istri saya mundur diri, pandemi Covid-19 datang yang berkontribusi pada melejitnya penjualan Farhana seperti sekarang ini. Alhamdulillah. Rahasia Tuhan tak satu pun yang tahu,” imbuhnya.(**)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.