Scroll untuk baca berita terbaru
banner 325x300
Sulut

Jokowi Serahkan PPKM Award untuk Pemprov Sulut, Wagub Steven Kandouw: Terimakasih Atas Dukungan Masyarakat

26
×

Jokowi Serahkan PPKM Award untuk Pemprov Sulut, Wagub Steven Kandouw: Terimakasih Atas Dukungan Masyarakat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyerahkan langsung Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Award 2023 untuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) di Gedung Dhanapala Kemenkeu, Jakarta, Senin (20/3/2023).

Wakil Gubernur Steven Kandouw mewakili Gubernur Olly Dondokambey menerima PPKM Award 2023 dari Presiden Jokowi. Ya, Pemprov Sulut mendapat penghargaan tersebut atas upaya pengendalian pandemi Covid-19.

“Puji Syukur atas penghargaan yang langsung diberikan oleh Bapak Presiden Jokowi, yang kita dapat atas kerja sama pemerintah, TNI-Polri, stakeholder kesehatan bahkan masyarakat Sulawesi Utara dalam hal penanganan Covid-19,” kata Kandouw.

Dia menjelaskan, penghargaan ini diraih atau ditetapkan melalui masuknya Pemprov Sulut, karena Kota Manado sebagai salah satu kota terbaik dalam pengendalian pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi.

“Sulawesi Utara masuk dalam kategori provinsi berkinerja terbaik dalam wilayah Sulawesi,” ujar Kandouw sembari menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Sulut.

“Terima kasih atas dukungan masyarakat karena kepatuhan dalam penanganan Covid-19. Penghargaan ini menjadi kebanggaan kami pemerintah bahkan seluruh masyarakat Sulawesi Utara,” katanya.

Kesempatan itu, Jokowi kembali
mengenang awal mula masuknya Covid-19, tiga tahun silam. Di mana semua berupaya bekerja keras untuk menyelamatkan masyarakat.

“Pada waktu itu, kita harus mengevakuasi WNI kita yang terkena Covid-19 di negara-negara yang terkena wabah,” kenangnya.

Jokowi juga menyampaikan tentang bagaimana pemerintah harus menyiapkan karantina dan fasilitas.

“Kita harus menyiapkan karantina dan fasilitas kesehatan, dan juga kita harus menyiapkan bantuan sosial kepada masyarakat yang kehilangan penghasilan,” ucapnya.

Menurut Jokowi, saat itu semua negara belum memiliki pengetahuan dan pengalaman apapun mengenai Covid-19.

“Pada waktu itu, terjadi perdebatan berhari-hari mengenai lockdown atau tidak. Secara nasional atau secara terbatas di kabupaten/provinsi,” katanya.

“Karena memang kita belum memiliki pengalaman mengenai pandemi ini semuanya. Jadi kalau ada perdebatan itu saya nilai wajar,” lanjutnya.

Saat itu, sambung Presiden, tidak ada yang tahu kebijakan yang tepat dalam penanganan Covid-19.

“Semua kritikan saya dengarkan, semua masukan saya dengarkan, dari siapa pun,” katanya.

Presiden juga bercerita, bagaimana saat itu, dirinya menelepon negara-negara yang terlebih dahulu terkena pandemi Covid-19.

“Kita belajar kepada negara lain, tetapi yang dimintai pendapat juga sama, mereka juga baru belajar. Belajar pada orang yang juga baru belajar,” kata Jokowi.

Pemerintah kemudian harus memutuskan untuk menjamin keselamatan rakyat. Sesuatu yang tidak mudah.

“Tidak mudah. Suasananya awal-awal mencekam, kejadian besok apa, kejadian bulan depan apa, tidak bisa dihitung dan tidak bisa diprediksi bagaimana ekonomi kita, tidak bisa diprediksi,” tandasnya. (red)