Scroll untuk baca berita terbaru
banner 325x300
Bisnis dan EkonomiMinahasaPemerintahanSulut

Bantu Kendalikan Inflasi, Pemkab Minahasa-BI Sulut Panen Cabai Keriting di Tonsea Lama

974
×

Bantu Kendalikan Inflasi, Pemkab Minahasa-BI Sulut Panen Cabai Keriting di Tonsea Lama

Sebarkan artikel ini

TONDANO, gosulut.com – Pemerintah Kabupaten Minahasa dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara melakukan panen cabai keriting di Desa Tonsea Lama, Senin (20/05/2024). Komoditas cabai keriting ini milik Kelompok Tani Friends Farming Tonsea Lama.
Penjabat (Pj) Bupati Minahasa, Jemmy Stany Kumendong mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu upaya pemerintah daerah bersama BI Sulut dalam penanganan inflasi.
Menurutnya, komoditas yang paling sering menjadi penyebab terjadinya inflasi di Sulawesi Utara adalah beras, bawang, daging babi, dan cabai (termasuk cabai rawit).
“Artinya kebutuhan masyarakat terhadap komoditas-komoditas tersebut sangat besar, dan perlu penanganan lebih,” kata Kumendong.
Sekadar diketahui, panen ini dilakukan di lahan yang diolah oleh Kelompok Tani Friends Farming yang berada di Desa Tonsea Lama, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa. Kelompok tani ini merupakan binaan Pemkab Minahasa, dan dalam pengelolaannya telah menggunakan Dana Desa sesuai dengan kebijakan nasional. Sesuai ketentuan, sebesar 20 persen Dana Desa bisa digunakan untuk penanganan inflasi di daerah.
Kumendong menambahkan dengan panen seperti ini diharapkan akan berpengaruh di pasar. Yakni, harga menjadi normal dan inflasi terkendali.
“Diharapkan juga hal ini jadi pemicu bagi petani lain untuk menanam cabai keriting. Tujuannya pertama dari sisi pemerintah adalah ketersediaan pasokan. Kedua dari sisi petani dapat meningkatkan kesejahteraan,” ujar Kumendong seraya menyampaikan apresiasi kepada BI Sulut yang selama ini telah membantu petani di Minahasa.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Darmawan Hutabarat mengatakan BI sangat mengapresiasi kegiatan ini karena merupakan implementasi dari hasil High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi (TPID) wilayah Minahasa yang digelar di Amurang pada Februari 2024 lalu.
“BI sudah pasti sangat senan. Karena belum lama ini kami sudah menggelar HLM TPID se Minahasa yang digelar di Amurang, di mana salah satu rekomendasinya adalah meningkatkan produksi cabe, bawang, tomat. Panen cabai keriting ini pun merupakan salah satu implementasi dari kesepakatan pada HLM tersebut,” kata Darmawan.
Darmawan menambahkan lahan yang diolah oleh Friends Farming untuk menanam cabai keriting dan tomat yang luasnya 2 hektar ini akan sangat membantu penanganan inflasi di saat ada kenaikan permintaan.
“Tadi disampaikan produksi cabai keriting bisa mencapai 20 ton. Ini luar biasa. Karena paling tidak dapat menahan harga komoditas cabai keriting karena tersedianya pasokan yang cukup,” katanya.
Ketua Kelompok Tani Friends Farming, Tonsea Lama, Jansen Pondaag mengatakan, lahan yang digunakan untuk menanam cabai keriting seluas 1 hektare.
“Di lahan ini kami menanam 12 ribu pohon dengan produksi total 20 ton. Dan dalam setahun bisa dilakukan dua kali masa tanam,” katanya.
Sedangkan untuk tomat, kata Jansen, sebanyak 1.000 pohon dengan hasil 3 kg per pohon. Sehingga produksi total mencapai 3 ton dalam sekali panen, dan dalam setahun tiga kali musim tanam.
“Untuk pemasaran, dari pengepul yang datang mengambil langsung dan sebagian kami pasarkan ke Pasar Tondano,” kata Jansen.
Menurutnya, saat ini harga cabai keriting cukup menjanjikan. Beberapa hari lalu pihaknya menjual ke pengepul dengan harga Rp20 per kg, sebelumnya hanya Rp17ribu per kg. Begitu juga dengan tomat, saat ini harga satu kotak kayu Rp400 ribu, sebelumnya hanya di kisaran Rp180 ribu.
Sekadar referensi, dalam penanganan inflasi, BI menetapkan empat program 4K, yaitu Ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif. Panen komoditas cabai, tomat dan komoditas lainnya yang dilakukan BI bersama pemerintah kabupaten/kota selama ini pun merupakan implementasi dari 4K tersebut.(arz/red)